Perkembangan Feminisme di Dunia

Feminisme merupakan gerakan menuntut adanya emansipasi atau kesaaan hak dan keadilan dengan pria. Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosialis utopis, Charles Fourier pada tahun 1837. Banyak sekali hal-hal yang diperjuangkan gerakan ini, mulai dari tuntutan hak atas perlindungan perempuan dari kekerasan rumah-tangga, pelecehan seksual dan perkosaan, persamaan hak perempuan dalam bidang pekerjaan,dll. Pencetus ide dan pemikiran-pemikiran diatas sebagian besar adalah perempuan-perempuan kelas menengah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.

Sojouner Truth, seorang bekas budak kulit hitam berkewarganegaraan Amerika yang pertama kali membeberkan masalah perbudakan di negaranya. Pada tahun 1851, Truth berpidato didepan khalayak ramai di Akron, Ohio dan pidatonya ini terkenal dengan sebutan ” Ain’t I a Woman?”. Kemudian, muncullah gelombang pertama feminisme. Sedangkan gelombang ke dua terjadi antara tahun 1960an hingga tahun 1980an. Gelombang ini di Amerika Serikat semakin keras bergaung dengan diterbitkannya buku “The Feminine Mystique” yang ditulis pada tahun 1963 oleh Betty Friedan, seorang tokoh Feminis, penulis berkebangsaan Amerika. Ia protes bahwa wanita hanya diperbolehkan mengerjakan pekerjaan
rumah tangga. Friedan membentuk organisasi wanita bernama ”National Organization for Woman“ (NOW) di tahun 1966.

Gerakan Feminis gelombang ke tiga pada tahun 1991, ditandai dengan dimenangkannya sebuah kasus yang memperkarakan seorang calon anggota the US Supreme Court yang melakukan pelecehan tehadap perempuan. Salah satu pendiri gerakan gelombang ini adalah Rebecca Walker, seorang penulis Yahudi lesbian berkebangsaan Amerika. Dalam perjalannya gerakan ini terus berkembang sesuai tuntutan dan kebutuhan. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar perempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal.

Marry Wallstonecraff, seorang wanita yang telah berhasil mengguncang dunia lewat bukunya The Right of Woman pada tahun 1972 dengan lantang menyuarakan tentang perbaikan kedudukan wanita dan menolak perbedaan derajat antara laki-laki dan wanita. Dengan cepat gerakan feminisme ini berkembang pesat di negara-negara Timur Tengah dan gerakan ini telah banyak memberikan kamajuan dan kemodernan di negara-negara tersebut di akhir abad
ke 10-an.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan feminisme di Timur Tengah : pertama, imperialisme Barat ke negara Timur Tengah banyak memberikan pengaruh terhadap adanya feminisme. M. Ali Pasha merupakan tokoh feminisme Mesir yang bertekad untuk meninggalkan tradisi mereka dan berusaha menggantinya dengan tradisi modern ala Barat dengan mengirimkan keluarganya ke universitas-universitas di Eropa.

Kedua, pengaruh misionaris kristen. Sekitar abad ke-19 banyak didirikan lembaga-lembaga yang dikelola oleh para misionaris dan dikembangkan oleh para guru-guru senior dengan kualitas dan disiplin yang tinggi.Banyak kaum perempuan yang mendaftar di lembaga tersebut. Kemudian, para misionaris mengubah idiologi mereka dengan ideologi Barat. Mereka mengutamakan menggunakan bahasa Eropa sebagai bahasa pengantar. Ketiga, bertambahnya pelajar muslim yang belajar ke universitas-universitas di Barat. Keempat, dibukanya terusan Suez pada tahun 1869 . Daerah yang dahulu sepi disulap menjadi kota metropolitan.

Feminisme di Indonesia berawal dari R.A Kartini yang memprjuangkan hak-hak kaum perempuan. Terutama hak-hak kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan. Dengan adanya emansipasi, perempuan bisa lebih bebas untuk bergerak dan berkarya. Sebelum adanya emansipasi , wanita pada zaman dahulu terkenal dengan selogan sumur, kasur, dapur. Namun saat ini, hampir di seluruh pelosok Indonesia, terutama di kota-kota besar para perempuan bekerja di luar rumah dan memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi.

Beberapa alasan mengapa wanita bekerja di luar rumah antara lain 1. Karena tidak ada laki-laki dalam keluarga. (bisa perempuan lajang atau janda). 2. Suami tidak bekerja. 3. Suami bekerja namun tidak mencukupi kebutuhan. 4. Ingin mengamalkan ilmu. 5. Tidak ingin tergantung pada suami.6. Mengisi waktu luang.dll. Wanita saat ini dituntut untuk lebih mandiri, pintar dan kreatif. Banyak tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang sukses.

Baik itu sebagai wanita karir, politisi, pekerja seni, dalam bidang kesehatan, bahkan menjadi pemimpin negara. Seperti mantan presiden Megawati Soekarno Putri, Meutia Hatta, Sri Mulyani dan masih banyak lagi wanita yang sukses dalam bidangnya masing- masing. Dengan berkembangnya feminisme di Indonesia, diharapkan kaum wanita memiliki hak pendidikan, politik, ekonomi yang sama dengan laki-laki dan mereka terbebas dari penindasan ataupun kekerasan. Tentu saja dengan tidak meninggalkan kodratnya sebagai perempuan. (reporter)

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 29 bulan April 2011. Hal. 10 dan 11.

1 komentar: