Rangkaian Seminar Padati Jadwal PNMHII XXIV

Tiga dari lima hari pelaksanaan Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia XXIV, seluruh delegasi disuguhi tiga seminar yang merupakan pengejawantahan dari tema besar PNMHII XXIV di UGM ini yakni Upaya Bina Damai dan Resolusi Konflik di Kawasan Asia Tenggara. Tiga seminar tersebut diisi oleh para pakar yang berasal dari Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia, ASEAN Foundation, Pusat Studi Perdamaian dan Keamanan UGM dan Dosen Pengajar HI UGM yang berkompeten dalam bidang Resolusi Konflik dan Kajian Asia Tenggara. Pembicara pakar ini membahas berbagai permasalahan dan dinamika konflik di Asia Tenggara tiga hari berturut-turut yakni Senin-Rabu (26-28/11) di Ruang Bulaksumur, University Club UGM.

Eric Hiariej dan Ihsan Ali Fauzi merupakan pembicara pada hari Senin (26/11). Seminar hari pertama mengangkat topik Gerakan Terorisme dan Upaya Penanganannya oleh Negara-Negara di Asia Tenggara. Isu seminar ini sangat sensitif di telinga masyarakat Indonesia khususnya, maupun masyarakat Internasional pada umumnya. "Ketika mendengar kata teroris seketika kita menjadi takut dan merasa terancam, tetapi sebenarnya hal ini yang diinginkan oleh oknum teroris tersebut. Karena mereka ingin menciptakan ketakutan kepada masyarakat", ungkap Ihsan dalam pemaparannya.

Memasuki seminar hari kedua, Zulfikar Amir dan Amalinda Savirani menjadi pembicara pada hari Selasa (27/11). Seminar ini mengangkat topik Pembangunan Demokrasi dan Dampaknya Terhadap Upaya Bina Damai di Asia Tenggara. Zulfikar mendapatkan kesempatan pertama untuk memaparkan presentasinya dengan sub-topik Social Media and Democratic Politics in Southeast Asia.  "Media sosial saat ini banyak sekali digunakan oleh pelaku kehidupan. Media sosial itu bersifat powerful karena dapat memobilisasi, dan memungkinkan pemerintahan bisa berubah", paparnya.

Amalinda dalam kesempatan kedua memaparkan tentang State Capacity and Conflict Resolution in Southeast Asia. "Dimana kita bisa melihat konflik dari kemampuan negara. Dan ternyata kita bisa mengetahui bahwa bukan berarti apabila GDP sebuah negara itu besar, maka pengelolaan konflik di negara itu semakin besar juga", ungkapnya.

Seminar hari ketiga tidak sama dengan seminar dua hari lalu yang merupakan seminar terbatas dan hanya berlangsung 1 sesi saja. Pada seminar hari ketiga Rabu (28/11) berbentuk seminar akbar dengan tema Peran ASEAN dan Indonesia dalam Upaya Bina Damai dan Resolusi Konflik di Asia Tenggara.

Sesi pertama diisi oleh Wiryono Sastrohandoyo dan Titik Firawati. Wiryono Sastrohandoyo pernah menjabat di Kemenlu 1962 sebagai Duta Besar untuk Prancis sampai tahun 1996 dan Australia sejak tahun 1996 sampai tahun 1999. Wiryono mengungkapkan bahwa, proses perdamaian tidak bisa instan dan harus menemupun tiga tahap yakni: Peace Making, Peace Keeping, dan Peace Building.

Lanjutnya, beliau menjelaskan ternyata perdamaian itu seperti kesehatan. Kita tidak memerlukan kesehatan, tetapi tanpa kesehatan kita tidak bisa berbuat apapun. Begitupun dengan perdamaian, kita tidak begitu memerlukan perdamaian tetapi tanpa perdamaian kita tidak bisa hidup dengan sejahtera. Sebagai negara berkembang, kepentingan utama kita adalah melakukan pembangunan. Dan agar dapat melakukan pembangunan, kita memerlukan perdamaian. Uni Eropa tidak bisa kita jiplak ataupun kita salin, tetapi kita harus dapat mempelajari dan mempertimbangkan apa yang telah dilakukan oleh Uni Eropa. Tapi Asia punya kecepatan sendiri untuk mengembangkan dinamikanya setapak demi setapak memperkuat integrasinya politik-keamanan, ekonomi dan sosial budaya.

Pembicara kedua pada sesi pertama, Titik Firawati menjelaskan tentang Peran Damai Indonesia di Kawasan ASEAN. "Ternyata penyelesaian konflik di Amerika Serikat lebih besar dibandingkan dengan penyelesaian konflik di Asia Tenggara, padahal konflik di Asia Tenggara lebih besar daripada di Amerika Serikat. Pengalaman Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik yang terjadi di Asia Tenggara pun sudah banyak. Diantaranya adalah konflik diantara Kamboja dan Thailand tentang sengketa Candi Preah", paparnya.

Sedangkan dalam sesi kedua, dihadirkan pembicara yakni Muhammad Hery Saripudin dan Septania H. Kadir yang merupakan Perwakilan Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Kemlu RI dan ASEAN Foundation. Pembicara pertama yakni Muhammad Hery Saripudin memaparkan tentang Peran ASEAN dalam Upaya Binadamai dan Resolusi Konflik di Asia Tenggara, sedangkan Septania H. Kadir memaparkan ASEAN's Role in Conflict Resolution and It's Peace Building Endeavors.

Seminar yang diadakan selama tiga hari memberikan pemahaman kepada 267 peserta dari 36 universitas mengenai arti pentingnya perdamaian, dan resolusi konflik di kawasan Asia Tenggara. Semoga ilmu yang diperoleh dapat dibagikan kepada mahasiswa lainnya sepulang dari kegiatan PNMHII XXIV di UGM. (fikar/sarah/adit/richo/fariz) Materi: - Muhammad Heri Saripudin [unduh] - Titik Firawati [unduh m1] [unduh m2] - Septania H. Kadir [unduh] - Wiryono Sastrohandoyo [unduh]

0 komentar: