“Jogja Menjerit Panas”

Oleh: Divisi Penelitian KOMAHI UMY

Banyak mahasiswa menganggap kota Yogyakarta itu aman, nyaman, dan sejuk. Hal itu terbesit dalam pikiran Susan (nama samaran) asal Sumatera, yang beranggapan bahwa Yogyakarta itu lebih sejuk daripada kota asalnya di Sumatera. Namun hal itu tidak sesuai dengan ekspetasinya. Pohon-pohon rindang yang dibayangkan selama ini hanyalah sebatas asa, hanya semilir angin dari pohon cemara yang bisa ia nikmati. Namun rindangnya pohon cemara itu tetap saja tidak mampu melindunginya dari terik matahari di Yogyakarta.

Kota Yogyakarta makin panas dari hari ke hari.

Bumi kian terasa panas dari tahun ke tahun akibat CO2 yang terperangkap di atmosfer bumi. Panasnya bumi ini terasa di seluruh dunia, khusunya Yogyakarta. Kota Yogyakarta telah mengalami kenaikan suhu udara yang tinggi, terutama pada tahun 2013 hingga tahun 2014. Perubahan iklim telah terjadi di sekitar empat puluh persen kota di dunia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dosen Fakultas Geografi UGM, Retnadi Heru Jatmiko, kenaikan suhu di kota Yogyakarta dipicu oleh padatnya bangunan di kota Yogyakarta, sementara vegetasi  yang ada hanya sedikit. Suhu merupakan parameter kedua yang terdampak oleh perubahan iklim perkotaan setelah bencana alam. Berdasarkan hasil penggunaan citra saluran infra merah termal terhadap perubahan iklim perkotaan Yogyakarta, suhu tinggi  berada di pusat perkotaan ditambah data dari sebuah penelitian ini sepanjang tahun 2013 dan 2014 yang mengatakan lahan yang tertutup oleh bangunan, aspal, dan atap di pusat Kota Yogyakarta memiliki temperatur lebih tinggi (Riyandi, 2016).

Sedangkan keadaan sebaliknya terjadi di luar pusat kota Yogyakarta. Pada wilayah yang berada di pinggiran kota hingga jauh dari kota tidak mengalami kenaikan suhu dan cenderung lebih dingin. Hal tersebut disebabkan vegetasi lahan terbuka yang berada di wilayah tersebut cukup banyak.  Selain perubahan suhu di pusat kota, daerah Yogyakarta lainnya pun mengalami dampak perubahan iklim dari badai El Nino. Badai tersebut mengakibatkan kesulitan air meskipun saat musim hujan. Hal itu sangat dirasakan oleh para petani di daerah Bantul yang jauh dari aliran sungai dan terpaksa harus memakai pompa disel yang mengakibatkan biaya produksi meningkat (Harry, 2016).

Matikan lampu selama 60 menit dapat merubah dunia.

Dengan fenomena perubahan iklim ini, banyak organisasi ataupun instansi di bidang lingkungan yang tergerak untuk menanggulangi perubahan iklim tersebut. Salah satunya adalah Earth Hour. Earth Hour sendiri berada di bawah World Wide Fund for Nature PBB. Earth Hour tidak hanya terpusat di Jakarta, namun juga ada di Yogyakarta. Organisasi ini tekenal dengan aksinya untuk menanggulangi perubahan iklim dan lingkungan.

Salah satu bentuk aksi Earth Hour untuk mengurangi perubahan iklim yaitu dengan cara mematikan lampu secara serentak dalam waktu 60 menit setiap tahunnya, dari pukul 20.30–21.30 WIB. Hal ini dimaksudkan karena sumber pembangkit listrik yang sekarang dipakai adalah batu bara yang mencemarkan udara. Jadi, mematikan lampu secara serentak di seluruh dunia dan kota-kota di dunia selama satu jam saja, maka akan menghemat listrik dan mengurangi jumlah batu bara yang  dibutuhkan untuk pembangkit listrik.

Di samping itu, Earth Hour juga mempengaruhi pembuatan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Yogyakarta, salah satu kebijakan yang dipengaruhi tersebut ialah Malioboro Car Free Night. Kebijakan ini dibuat dengan melihat masalah kemacetan dan tingkat polusi yang tinggi pada hari Sabtu dan Minggu. Sehingga Earth Hour berkoordinasi dengan pemerintah untuk membuat kebijakan tersebut. Namun kebijakan tersebut masih belum dapat dilaksanakan, dan Earth Hour sendiri pun melakukan street camping akan adanya kekurangan lahan hijau di Yogyakarta sendiri. Hal itu membuat pemerintah mengapresiasikan hal tersebut dengan menciptakan suatu konsep untuk membuat taman di Yogyakarta. Program-program yang dilakukan Earth Hour pun sebagian dibantu dengan dana yang diberikan oleh korporasi. Kemudian atas bantuan Sultan sebagai pemerintah juga memberikan “surat sakti” yang dapat mempermudah program Earth Hour  untuk dapat diakses ke berbagai tempat.

Oleh karena itu, diharapkan pemerintah Yogyakarta bisa mengambil andil dari aksi-aksi yang dilakukan oleh Earth Hour untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang terjadi di Yogyakarta. Akhirnya, akan tercipta lingkungan yang lebih baik di Yogyakarta dan sekitarnya yang tentu saja bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk lebih sadar untuk merawat bumi dari hal-hal yang kecil maupun besar.

Tentang KOMAHI UMY 24 Articles
Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KOMAHI UMY) diresmikan pada 8 Agustus 1988, dan merupakan satu-satunya himpunan mahasiswa jurusan di prodi HI. Website dan semua media sosial KOMAHI UMY, dikelola oleh Divisi Pers Mahasiswa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*