Magang Tanpa Antri Hingga Hadiah Ke Bahrain Warnai Praktikum Diplomasi HI UMY

DALAM¬†rangka mempersiapkan para calon lulusan terbaik, Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Prodi HI UMY) bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri dalam hal ini melalui Direktorat Jenderal Diplomasi Publik menyelenggarakan Seminar dan Simulasi Sidang Bali Democracy Forum (BDF) dengan tema “Does Democracy Deliver?” bertempat di ruang Amphi Theater Pascasarjana, Lantai 4, Kampus Terpadu UMY, Jumat (4/5).

Agenda yang baru pertama kalinya diselenggarakan di UMY ini dihadiri langsung oleh Direktur Azis Nurwahyudi bersama staf Direktorat Diplomasi Publik. Dalam penyampaiannya, Pak Azis menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat memberikan manfaat bagi para mahasiswa, terutama pembahasan terkait demokrasi yang amat penting bagi mereka yang memiliki cita-cita menjadi diplomat di masa depan.

“Semakin hari, peserta BDF ini terus meningkat, karena semakin banyak negara yang percaya dengan kapabilitas Indonesia di bidang demokrasi. Sebagai para penerus bangsa, wajib hukumnya bagi teman-teman semua, untuk aktif dalam berbagai kegiatan seperti ini, untuk itu kemudian kami mencoba untuk menyediakan sarana bagi mahasiswa melalui Bali Democracy Students Conference (BDSC). Bagi kalian yang ingin masuk ke kemenlu, penting untuk berpartisipasi di kegiatan internasional seperti ini. Bahwa sesungguhnya, yang kami cari bukan hanya orang pintar, tapi orang yang mampu mengimbangi kemampuan akademik dan non-akademiknya,” ujar direktur yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 2016 silam ini.

Kegiatan ini terbagi dalam dua hari penyelenggaraan, hari pertama adalah seminar dan penyampaian teknis terkait praktik BDF, sementara di hari berikutnya para peserta yang terdiri dari 47 negara dan 2 institusi internasional (PBB dan ASEAN) akan langsung melaksanakan sidang. Penyelenggaraan BDF kali ini memang masih dalam rangkaian yang sama yakni memenuhi kuliah Praktikum Diplomasi untuk mahasiswa semester 6 HI UMY dengan hanya dikhususkan kepada mereka yang mengambil konsentrasi Diplomasi atau mata kuliah Praktikum Diplomasi.

“Saya dan dosen pengampu mata kuliah Prakdip lain sepakat untuk menyelenggarakan Model BDF, karena menurut kami model ini masih sangat asing bagi para mahasiswa kami. Setiap tahun, yang kami selenggarakan selalu sebatas Model United Nations (MUN), ASEAN Regional Forum (ARF), ataupun Model European Union (MEU). Padahal, BDF ini merupakan forum yang diinisiasi oleh Indonesia dan selalu terjadi peningkatan dari segi peserta ataupun outcome.¬†Lagipula, masih belum banyak yang memiliki model ini, kesempatan baik bagi kami untuk menjadi salah satu yang pertama menyelenggarakannya,” ucap Ratih Herningtyas, salah satu dosen pengampu mata kuliah prakdip.

Disela-sela agenda seminar, ada sharing menarik terkait proses seleksi kemenlu yang disampaikan oleh Duta Besar LBBP Indonesia untuk Bahrain, Nur Syahrir Rahardjo, yang menyempatkan diri untuk hadir meski sedang melaksanakan tugas di Yogyakarta.

“Masuk ke kemenlu bisa menjadi sangat sulit jika kalian tanpa persiapan. Tidak ada yang mulus masuk ke kemenlu, meskipun mereka adalah anggota keluarga kami sendiri. Anak saya bahkan tidak pernah memberi tahukan kepada saya bahwa akan mendaftar kemenlu, tiba-tiba pengumuman kelulusan, dia lulus dengan murni tanpa campur tangan saya, dan begitupula anak-anak dari pejabat kemenlu lain yang saya ketahui. Sehinga, memang yang diterima adalah orang-orang terbaik dengan kemampuan sesuai yang dibutuhkan oleh kemenlu,” tegas Dubes yang pernah bertugas di Kuwait, Suriname, Yunani dan Amerika Serikat ini.

Dalam agenda hari pertama ini, terdapat mahasiwa beruntung yang mendapatkan magang “tanpa antri” di Direktorat Diplomasi Publik, yakni Lalu Imam, setelah berhasil menjawab pertanyaan yang ditanyakan oleh Direktur Azis. Selain itu, berkat kemurahan hari Dubes Rahardjo, nantinya dalam penyelenggaraan BDF akan dipilih dua Best Participant¬†oleh tim dari Direktorat Diplomasi Publik, yang akan diberikan hadiah “Belajar Menjadi Diplomat” langsung di Bahrain dengan segala biaya ditanggung oleh Dubes Rahardjo (Tiket Pesawat+Visa+Akomodasi+Uang Saku), yang semakin menambah semangat dari para peserta Model BDF kali ini. (ejak)

 

 

Tentang KOMAHI UMY 28 Articles
Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KOMAHI UMY) diresmikan pada 8 Agustus 1988, dan merupakan satu-satunya himpunan mahasiswa jurusan di prodi HI. Website dan semua media sosial KOMAHI UMY, dikelola oleh Divisi Pers Mahasiswa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*