Kritik Terhadap Sistem Demokrasi Indonesia

Judul diatas mungkin terkesan agak sedikit provokatif bagi sebagian orang yang membacanya, namun di sini penulis hanya ingin mnyampaikan opini dari pemikirannya terhadap lemahnya sistem demokrasi di Indonesia sekarang ini.

Seperti kita ketahui bersama bahwa bangsa Indonesia baru saja melakukan sebuah pesta demokrasi yang besar dan terjadi dua kali yaitu pada tanggal 9 April untuk pemilu legislatif dan 8 Juli untuk pemilu presiden. Dan pemilu kita telah selesai dilakukan dengan damai terlepas dari semua kekacauan yang mengiringi proses jalannya pemilu 2009.

Kita semua rakyat Indonesia mungkin telah mengetahui hasil dari Pemilu tersebut, dimana pada pemilu legislatif Partai pendatang baru Partai Demokrat berhasil memenangi pemilu legislatif dengan perolehan suara mencapai 20% sebuah hasil yang cukup mengejutkan buat partai yang umurnya baru kurang lebih satu dekade, namun di sini penulis tidak akan mengelaborasi tentang kemenangan Partai Demokrat pada pemilu legislatif lalu maupun kemenangan pasangan SBY-Boediono pada pemilu presiden tetapi penulis di sini akan lebih menitikberatkan dan memfokuskan tulisan pada Sistem Pemilu kita.

Seperti yang telah penulis sebutkan diatas, disini akan membahas lebih kepada budaya politik masayrakat Indoneisa itu sendiri karena tanpa bisa kita pungkiri bahwa pemilu erat kaitan nya dengan budaya politik. Di Indonesia dimana kita menerapkan sebuah sistem pemilu - baik itu yang berskala nasional maupun yang berskala daerah – dengan cara one man one vote, mungkin kita belum saatnya untuk menerapkan sistem tersebut, sistem tersebut merupakan sistem yang baik bagi Negara-negara yang sistem politik dan budaya politiknya sudah maju dan mapan tidak seperti di Indonesia yang masih labil namun karena kita belajar berdemokrasi dan berpolitik dari negeri nya Abang Sam maka jadilah sistem politik kita untuk pemilu khususnya seperti sekarang ini.

Penulis beranggapan bahwa belum saatnya untuk Indonesia menerapkan sebuah sistem demokrasi dengan sistem one man one vote karena untuk menerapkan sistem tersebut seharusnya kondisi sebuah bangsa atau Negara sudah harus stabil dana mapan dalam kehidupan politiknya tidak seperti di Indonesia yang kondisi kehidupan politiknya masih belum stabil, faktor lain yang menyebabkan Indonesia belum pantas untuk menerapka sistem one man one vote adalah belum meratanya pendidikan politik di Indonesia, karena kita ketahui bersama bahwa di Indonesia sampai pada saat ini pembangunan fisik belum merata dan itu juga berbanding lurus dengan pendidikan politik di pedesaan, sebuah hal yang sangat aneh sebenernya ketika kita menginginkan partisipasi penuh dari seluruh rakyat namun penetrasi pendidikan politik belum sampai ke lapisan grass root, hal ini juga merupakan kesalahan dari semua partai politik yang berada di Indonesia karena kebanykan kalau tidak ingin dikatakan semua partai politik merupakan partai massa bukan merupakan partai kader inilah yang menyebabkan pendidikan politik dari partai politik tidak pernah tepat pada sasaran.

Mungkin yang sedikit ekstrem penulis beranggapan bahwa sistem one man one vote yang exist sekarang tidak adil bagi rakyat Indonesia seluruhnya, karena apabila kita perbandingkan seorang mahasiswa yang melek politik dan melek informasi tidak akan mungkin suaranya bisa disamakan dengan (maaf) tukang becak yang mungkin hanya tamatan SD ini adalah sebuah keironisan karena dengan analogi seperti ini dapat kita bayangkan kualitas pemimpin yang dipilih oleh rakyat Indonesia karena menurut data BPS hampir 60% pemilih di Indonesia hanya mengecap pendidikan paling tinggi hinggan jenjang SMP, dengan kata lain pemimpin yang ada di Indonesia saat ini yang dipilih melalui pemilihan langsung bisa dipertanyakn kualitasnya mungkin ada yang benar-benar berkualitas namun tidak juga menutup kemungkinan hanya mengandalkan penjualan citra dari atau pengiklanan.

Dari beberapa penjelasan diatas yang berisi kritikan terhadap Sistem Demokrasi di Indonesia, penulis tidak hanya ingin bermain pada ranah kritik namun juga ingin memberikan sedikit saran demi kebaikan bersama bangsa karena penulis tidak ingin dianggap hanya bisa mengkritk namun tidak memberikan sesuatu yang konkret bagi kemajuan bangsa ini. Dan penulis beranggapan bahwa yang terpenting bagi bangsa Indonesia sekarang ini adalah kemampuan para pengurus dan elite partai politik untuk memberikan pendididkan politik yang benar kepada masayarakat Indonesia sehinggga masayarakat Indonesia dapat benar-benar sadar akan politik dan tidak asal memilih. Penulis juga mempunyai sebuah solusi yang mungkin terlihat agak utopis, yaitu sistem demokrasi dikembalikan ke seperti zaman Soeharto dahulu ketika seorang Presiden dipilih oleh para anggota DPR/MPR yang menjadi representasi dari rakyat, namun disini penulis berasumsi bahwa anggota Parlemen yang terpilih haruslah memang orang yang berilmu dan bisa dipercaya dan juga bersih dari segala sikap tercela dan yang memilih anggota DPR/MPR tersebut bukan semua rakyat tapi minimal rakyat berpendidikan SMA, terkesan tidak adil memang namun dalam agama Islam pun Allah SWT telah mengatakan bahwa Ia akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu, atas dasar inilah maka penulis bernaggapan bahwa pendidikan minimal SMA sangat penting untuk menjadi syarat utama.

Dengan cara yang penulis sebutkan diatas sebenarnya merupakan cara lama yang digunakan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW untuk mencari pengganti Nabi Muhammad SAW sebagai Amirul Mu’minin, pada saat itu Abu Bakar terpilih dengan cara musyawarah antara dua faksi yang ada di Madinah yaitu Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti musyawarah tersebut merupakan orang yang terpilih dan dianggap lebih mampu daripda yang lain dari setiap faksi dan Abu Bakar di bai’at oleh para sahabat yang lain. Di sini penulis ingin mengambil hikmah dari kejadian tersbut dan disesuaikan dengan keadaan dan realita yang ada saat ini sehingga mungkin bisa diaplikasikan di Indonesia di suatu saat dan kita tidak harus menggunakan sistem demokrasi Amerika seperti sekarang.

Di akhir tulisan ini penulis hanya ingin menyampaikan bahwa tidak ada niat penulis untuk menyinggung persaan siapa pun atau menyerang pihak manapun melalui tulisan ini, penulis hanya ingin menyampaikan apa yang ada di kepala penulis dan apabila ada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman tau merasa terganggu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak.


Oleh: M. Rizki Maulana
Mahasiswa HI UMY dan Alumni Pengurus KOMAHI UMY Angkatan 2006

0 komentar: